Sidrap, Nama dibalik Sejarah

Posted: January 24, 2010 in Uncategorized

Sidenreng Rappang , sebuah nama yang melegenda. Tesis itu tak seorangpun yang membantahnya.  Bukan saja karena namanya yang kian popular, tapi juga karena nama sidenreng rappang itu sarat dengan muatan sejarah. Terlalu banyak catatan penting yang tertoreh dari dank arena sidenreng rappang. I’tibar pun lahir karenanya.

Secara sosiologis, ada satu hal yang lazim dalam penelusuran sejarah dari mana sebuah daerah, yaitu mempertanyakan mengapa suatu komunitas terbentuk? Unsure-unsur apa saja yang membetuk  komunitas itu?

Dan, memang bukan lagi misteri, seperti apa dan bagaimana sesungguhnya sidenreng rappang terbentuk dilihat dari proses awal komunitasnya.

Bukti-bukti sejarah yang bisa ditelusuri yakni sejak kita mengenal budaya tulis, sudah diwariskan suatu cerita menganai keuletan masyarakat di suatu tempat yang kemudian disebut dengan nama sidenreng dan rappang. Itu terjadi sejak awal abad 16 sampai abad 17.

Dari Dua Nama

Bukan karena kebetulan sehingga Sidenreng Rappang telah menjadi nama yang sudah melegenda dan tidak asing, baik di tingkat local maupun nasional. Bahkan tidak salah jika dikatakan, historis gabungan dua nama Sidenreng dan Rappang, bukanlah sekedar sebuah nama yang memiliki makna cultural, tetapi juga telah menjadi trade-mark dari sebuah proses social yang terbangun dalam komunitasnya.

Historisnya, sidenreng rappang awalnya terdiri dari dua kerajaan, masing-masing Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan rappang. Dua kerajaan ini sangat karib meski dengan system dengan struktur pemerintahan sendiri. Sekat-sekat primordialisme kemudian dapat melebur dalam kebersamaan.

Itu pula sebabnya, sulit mencari garis pembeda dari dua kerajaan ini. Dialeg bahasanya sama, bentuk fisiknya juga tidak berbeda. Bahasa sehari-harinya juga mirip. Wilayah kerajaan rappang menempati posisi sebelah utara, sedang kerajaan sidenreng berada di bagian selatan. Menurut catatan sejarah, kedua kerajaan tersebut memiliki system pemerintahannya masing-masing. Kerajaan Sidenreng dengan kepala pemerintahan awalnya bergelar Addaowang. Namun dalam perkembangan selanjutnya gelar Addaowang mengalami perubahan menjadi Addatuang. Sedangkan untuk kepala pemerintahan Rappang bergelar Arung Rappang.

Dalam penyelenggaraan pemerintah, penasehat memegang peranan penting karena itu menjadi penasehat tidaklah sembarang orang. Mereka harus memiliki watak intelektual yang betul-betul menjadi panutan dan referensi bagi kerajaan. Sebut misalnya penasehat raja yang paling tersohor, Nene Mallomo. Penasehat di akhir abad ke-16 Masehi ini , bukan saja ahli dalam bidang pemerintahan tetapi juga seorang hakim yang jujur buktinya tatkala Nene Mallomo menjatuhkan hukuman mati terhadap putranya sendiri hanya karena terbukti mencuri bajak. Karena itu menegakkan kebenaran menurut Nene Mallomo,”temmakkeana’ temmakeappo”. Siapapun juga jika bersalah harus dihukum.

Untuk itulah, dalam kebutuhan mencari nilai tatanan budaya masa lampau dan bagaimana untuk melanjutkan pengembangan kebudayaan dalam era yang demikian global, mengharuskan perlunya mengkaji kembali eksistensi Sidenreng Rappang yang kini dihuni tak kurang dari 245.000 jiwa lebih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s